Senin, 15 Desember 2014

SEBUAH CERPEN :Baby Oh Baby



Baby oh Baby
Berawal dari sahabatku yang akrab disapa Dina, mahasiswi Fakultas Tarbiyah, Pendidikan Agama Islam yang  suka curhat dengan diriku. Dia menceritakan kawannya dari Medan yang tiba-tiba mengabarkan kalau kawannya itu sudah punya “debay” alias dedek bayi. Ow ow ow membuat aku su’udzan dalam hati dan malah keceplosan , “ Kawanmu itu hamil diluar nikah ya?” tanyaku dengan polos, “ Enggak din, dia itu nikah muda looh karena takut maksiat berkelanjutan dari pada nanti nglakuin zina mending langsung nikah ”. Pilihan menikah di usia muda itu berat menurutku, selain harus mengurus rumah dan anak juga menata study bagi yang statusnya masih mahasiswa. Di kemudian hari diriku diajak Dina pergi menjenguk kawannya tadi. Sebelumnya kami pergi ke Kopma UIN SUKA membeli perabotan bayi. Setelah dibeli kami lekas On The Way kerumahnya. Jalan Timoho dekat kampus APMD, kawannya Dina tinggal disana yang bernama  “Kiki” dan biasa dipanggil “mba Kiki”. Lokasi yang tak jauh dari kostku, kami tempuh dengan waktu sepuluh menit naik sepeda dari kostku Jalan Bimokurdo, Sapen.
“assalaamualaikum” dengan suara nyaring PD nya aku mengucap salam dikontrakan orang, haha....  “waalaikumussalam, mba nyari siapa ya? Tanya seorang laki-laki tampan yang menatap wajahku bulat-bulat.  Waw ternyata ini kontrakan laki toh, hmmm sempet membuat aku terkejut, “ mba kiki nya ada mas? “ dengan halus aku tanya pada laki-laki itu,
“ooh ada, sebentar saya panggil” Setelah menunggu sekian menit, ternyata keluar juga seseorang yang baru 4 bulan menjadi seorang ibu, yang bernama mba kiki. Sosok yang molek, dan masih imut-imut takku sangka ternyata sudah memiliki buah hati dari pernikahannya di Malang. Mahasiswi prodi Sastra Inggris di salah satu universitas negeri di Malang ini enjoy dengan profesi barunya, yakni ibu rumah tangga.
Perbincangan pun dimulai, dari perkenalan sampai juga membahas pada percintaannya. Hal ini membuat diri ini ingin menirunya dalam hal  “menikah muda”. Enak kali ya kalau punya dedek bayi, sepulang ngampus bete nggak ada hiburan bisa dihibur dengan kehadiran bayi. Tapi setelah ku pikir-pikir, its very difficult! Bayangkan apa jadinya kalau aku nikah belum wisuda, belum punya kerjaan, belum punya pengalaman hidup yang cukup tuk mengakhiri masa lajang ini. Pernah aku dekat sama laki-laki yang Dina kasih nama samaran “Munir” ,ups itu nama yang diberikan Dina untuk laki-laki itu. Kenapa? Karena untuk merahasiakan nama aslinya menghindari malu pada temen-temen karena aku sama dia cinlok dan cinta nya itu masih setengah-setengah. Tak lama hanya di semester 2, sudah berakhir dengan Munir, kan ngenes.
Kembali lagi guys ke obrolan tadi dengan mbak kiki, “ Mba itu gimana kisahnya kok bisa nikah di semester satu biasanya kan perempuan yang ngampus ato mahasiswi paling banter  itu semester lima ?” tanyaku penasaran. “ Gini din, nikah muda itu klo dijalani enak kok tapi kalau dipikir ya pening,hihihi” jawaban mba kiki yang menurutku amat pasrah. Di tengah-tengah pembicaraan, dia (mba kiki) bercerita bahwa dirinya itu menikah tanpa restu orang tua. Oh my God! Jauh-jauh pacarnya dari Medan ke Malang tuk nikahin dirinya, yang sudah lama merajut sayang di penjara suci. Aneh kan? Mba kiki dan suami nikah dengan menyewa wali, tuk menikahkan dirinya dengan laki-laki piihannya itu. Suami yang masih muda sekali 22 tahun menikah dengan mba kiki yang berusia 18 tahun. Sungguh membuat hati ini kaget setengah tiang, sudah kayak bendera nih setengah tiang. Masya Allah...
Perbincangan yang sudah kelar, diganti foto-foto narsis Dina dan Dindin dengan dedek bayi, senangnya nyubit pipi dedek dan menciumnya. Aku dan dina mengantarkan dede ke kamar, masya Allah kamarnya 2x2 m dihuni keluarga kecil mba kiki. Selama ini aku tinggal di kamar 3x4 m ajah sering ngeluh , kamarnya sesaklah, sumpek, panas, dan satu lagi kurang puas kepengin sendiri. Dasar manusia tak pernah puas, padahal harus bersyukur.
Poto bersama dedek  aku jadikan poto profil di facebook, puluhan like dan seruntut pertanyaan muncul dikomen fotoku. Salah satunya dosen favorit aku, Bapak Panji Hidayat. Menanyakan anak siapa yang aku gendong di foto itu. Aku jawab saja itu foto anak temenku. Lumayan berhasil membuat orang-orang terpesona dengan foto ku yang ber acting seolah-olah beneran aku itu ibu dari anak yang aku gendong. Alhasil mendadak tenar diri ini diduina nyata maupun didunia maya.
Dua minggu kemudian, aku dan dina kesana menjenguk dedek dan mba kiki untuk yang kedua kalinya. Kali ini tak lagi membawa perabot bayi tapi membawa siju singkong keju. Padahal sih rada kecewa membeli itu, karena sahabatku Dina pantang makan singkong... selama setahun, itu sesuatu yang bikin illfeel. Hujan rintik-rintik  bersamaan kami kesana, dengan malu-malu. Melihat suasana sepi karena faktor hujan namun tak membuat diri ini patah semangat tuk menemuinya. “ Sini masuk, dedeknya sudah bangun nih mau dimandiin” , kata mba kiki dengan ramahnya kepada kami ... “ iya mbak, kami bantuin ya mandiin dedeknya” sahut kami dengan penuh semangat!
Dari situ kami belajar bahwa hidup itu harus dijalani dengan sabar dan menikmatinya, karena sungguh kejadian yang menakjubkan dalam hidup tak bisa terulang lagi. Jadi jangan dipikir, nanti malah pusing tujuh keliling. Selesai sudah kunjungan ke rumah kawan, hujan yang sejak siang  mengguyur ternyata sampai malem dan hal itu membuat kami berteduh di sebuah masjid kawasan jalan timoho, “ Masjid Munawwir” namanya, indah bukan? Disitu aku dan Dina sholat dan duduk sejenak sambil baca al-quran. “ Dina, kita mau nunggu isya? Apa langsung pulang abis ini..” tanya aku sama dina , “terserah Dindin deh, enakan nanti dulu wis,” hihi akhirnya kami putuskan untuk menunda pulang sekalian sholat isya dimasjid ini. Masjid yang indah, ditengah-tengah keramaian dijalan Timoho itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar