Baby oh Baby
Berawal dari sahabatku yang akrab disapa Dina, mahasiswi Fakultas Tarbiyah,
Pendidikan Agama Islam yang suka curhat
dengan diriku. Dia menceritakan kawannya dari Medan yang tiba-tiba mengabarkan
kalau kawannya itu sudah punya “debay” alias dedek bayi. Ow ow ow membuat aku
su’udzan dalam hati dan malah keceplosan , “ Kawanmu itu hamil diluar nikah ya?”
tanyaku dengan polos, “ Enggak din, dia itu nikah muda looh karena takut
maksiat berkelanjutan dari pada nanti nglakuin zina mending langsung nikah ”.
Pilihan menikah di usia muda itu berat menurutku, selain harus mengurus rumah
dan anak juga menata study bagi yang statusnya masih mahasiswa. Di
kemudian hari diriku diajak Dina pergi menjenguk kawannya tadi. Sebelumnya kami
pergi ke Kopma UIN SUKA membeli perabotan bayi. Setelah dibeli kami lekas On
The Way kerumahnya. Jalan Timoho dekat kampus APMD, kawannya Dina tinggal
disana yang bernama “Kiki” dan biasa
dipanggil “mba Kiki”. Lokasi yang tak jauh dari kostku, kami tempuh dengan
waktu sepuluh menit naik sepeda dari kostku Jalan Bimokurdo, Sapen.
“assalaamualaikum” dengan suara nyaring PD nya aku mengucap salam
dikontrakan orang, haha....
“waalaikumussalam, mba nyari siapa ya? Tanya seorang laki-laki tampan
yang menatap wajahku bulat-bulat. Waw
ternyata ini kontrakan laki toh, hmmm sempet membuat aku terkejut, “ mba kiki
nya ada mas? “ dengan halus aku tanya pada laki-laki itu,
“ooh ada, sebentar saya panggil” Setelah menunggu sekian menit,
ternyata keluar juga seseorang yang baru 4 bulan menjadi seorang ibu, yang
bernama mba kiki. Sosok yang molek, dan masih imut-imut takku sangka ternyata
sudah memiliki buah hati dari pernikahannya di Malang. Mahasiswi prodi Sastra
Inggris di salah satu universitas negeri di Malang ini enjoy dengan
profesi barunya, yakni ibu rumah tangga.
Perbincangan pun dimulai, dari perkenalan sampai juga membahas pada
percintaannya. Hal ini membuat diri ini ingin menirunya dalam hal “menikah muda”. Enak kali ya kalau punya
dedek bayi, sepulang ngampus bete nggak ada hiburan bisa dihibur dengan
kehadiran bayi. Tapi setelah ku pikir-pikir, its very difficult!
Bayangkan apa jadinya kalau aku nikah belum wisuda, belum punya kerjaan, belum
punya pengalaman hidup yang cukup tuk mengakhiri masa lajang ini. Pernah aku
dekat sama laki-laki yang Dina kasih nama samaran “Munir” ,ups itu nama yang
diberikan Dina untuk laki-laki itu. Kenapa? Karena untuk merahasiakan nama
aslinya menghindari malu pada temen-temen karena aku sama dia cinlok dan cinta
nya itu masih setengah-setengah. Tak lama hanya di semester 2, sudah berakhir
dengan Munir, kan ngenes.
Kembali lagi guys ke obrolan tadi dengan mbak kiki, “ Mba itu
gimana kisahnya kok bisa nikah di semester satu biasanya kan perempuan yang
ngampus ato mahasiswi paling banter itu
semester lima ?” tanyaku penasaran. “ Gini din, nikah muda itu klo dijalani
enak kok tapi kalau dipikir ya pening,hihihi” jawaban mba kiki yang menurutku
amat pasrah. Di tengah-tengah pembicaraan, dia (mba kiki) bercerita bahwa
dirinya itu menikah tanpa restu orang tua. Oh my God! Jauh-jauh pacarnya dari
Medan ke Malang tuk nikahin dirinya, yang sudah lama merajut sayang di penjara
suci. Aneh kan? Mba kiki dan suami nikah dengan menyewa wali, tuk menikahkan
dirinya dengan laki-laki piihannya itu. Suami yang masih muda sekali 22 tahun
menikah dengan mba kiki yang berusia 18 tahun. Sungguh membuat hati ini kaget
setengah tiang, sudah kayak bendera nih setengah tiang. Masya Allah...
Perbincangan yang sudah kelar, diganti foto-foto narsis Dina dan
Dindin dengan dedek bayi, senangnya nyubit pipi dedek dan menciumnya. Aku dan
dina mengantarkan dede ke kamar, masya Allah kamarnya 2x2 m dihuni keluarga
kecil mba kiki. Selama ini aku tinggal di kamar 3x4 m ajah sering ngeluh ,
kamarnya sesaklah, sumpek, panas, dan satu lagi kurang puas kepengin sendiri.
Dasar manusia tak pernah puas, padahal harus bersyukur.
Poto bersama dedek aku
jadikan poto profil di facebook, puluhan like dan seruntut pertanyaan
muncul dikomen fotoku. Salah satunya dosen favorit aku, Bapak Panji Hidayat.
Menanyakan anak siapa yang aku gendong di foto itu. Aku jawab saja itu foto
anak temenku. Lumayan berhasil membuat orang-orang terpesona dengan foto ku
yang ber acting seolah-olah beneran aku itu ibu dari anak yang aku
gendong. Alhasil mendadak tenar diri ini diduina nyata maupun didunia maya.
Dua minggu kemudian, aku dan dina kesana menjenguk dedek dan mba
kiki untuk yang kedua kalinya. Kali ini tak lagi membawa perabot bayi tapi
membawa siju singkong keju. Padahal sih rada kecewa membeli itu, karena
sahabatku Dina pantang makan singkong... selama setahun, itu sesuatu yang bikin
illfeel. Hujan rintik-rintik bersamaan kami
kesana, dengan malu-malu. Melihat suasana sepi karena faktor hujan namun tak
membuat diri ini patah semangat tuk menemuinya. “ Sini masuk, dedeknya sudah
bangun nih mau dimandiin” , kata mba kiki dengan ramahnya kepada kami ... “ iya
mbak, kami bantuin ya mandiin dedeknya” sahut kami dengan penuh semangat!
Dari situ kami belajar bahwa hidup itu harus dijalani dengan sabar
dan menikmatinya, karena sungguh kejadian yang menakjubkan dalam hidup tak bisa
terulang lagi. Jadi jangan dipikir, nanti malah pusing tujuh keliling. Selesai
sudah kunjungan ke rumah kawan, hujan yang sejak siang mengguyur ternyata sampai malem dan hal itu
membuat kami berteduh di sebuah masjid kawasan jalan timoho, “ Masjid Munawwir”
namanya, indah bukan? Disitu aku dan Dina sholat dan duduk sejenak sambil baca
al-quran. “ Dina, kita mau nunggu isya? Apa langsung pulang abis ini..” tanya
aku sama dina , “terserah Dindin deh, enakan nanti dulu wis,” hihi akhirnya
kami putuskan untuk menunda pulang sekalian sholat isya dimasjid ini. Masjid
yang indah, ditengah-tengah keramaian dijalan Timoho itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar